Makassar — Gemuruh tepuk tangan di Ballroom Hotel Claro Makassar, Rabu (7/10/2026), menjadi saksi bisu pengukuhan sebuah sejarah baru. Hari itu, kepengurusan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan periode 2026–2029 resmi disahkan oleh Sekjen DPP REI, Raymond Arfandy.
Di pucuk pimpinan, berdiri tegak sosok H. Badris Salam. Bersama Sekretaris Andi Ridwan Djabir dan Bendahara Andi Imran Rahmadi Putra Yusran, bos PT Bumi Pundi Karsa ini resmi menerima tongkat estafet kepemimpinan REI Sulsel.
Namun, di balik setelan jas rapi dan sorot lampu panggung kemegahan Musda XV tersebut, tersimpan sebuah kisah hidup yang berdarah-darah. Badris Salam bukanlah pewaris takhta 'darah biru' korporasi. Ia adalah seorang petarung yang merangkak dari debu jalanan dan kerasnya material proyek.
Jauh sebelum namanya disegani sebagai nakhoda organisasi pengembang di Sulsel, Badris mengawali kariernya dari kasta paling bawah di dunia konstruksi: menjadi buruh bangunan.
Perjalanannya dimulai saat ia memutuskan merantau dan mengikuti pamannya yang berprofesi sebagai kontraktor di Makassar. Tak ada privilese. Ia memeras keringat sebagai kuli panggul, tukang, hingga mandor. Dari sana, ia perlahan naik kelas menjadi subkontraktor, menimba ilmu dari proyek-proyek raksasa milik perusahaan besar seperti Bumi Karsa dan Bosowa.
"Awalnya itu kami ikut sama paman. Paman di Makassar ini memang dulu kontraktor. Sehingga kami ikut juga sama beliau," kenang Badris, menelusuri memori masa lalunya. Di lapangan berdebu itulah insting bisnis dan pemahamannya tentang seluk-beluk konstruksi ditempa habis-habisan.
Titik balik pertama terjadi pada tahun 2007. Bermodalkan nyali dan pengalaman teknis, Badris memberanikan diri terjun ke bisnis developer. Karena modal finansialnya terbatas, ia memutar otak dengan menerapkan sistem bagi hasil.
Proyek perdananya berlokasi di kawasan Sudiang, Jalan Goriyya, Makassar. Skemanya sederhana namun cerdas: pemilik lahan menyediakan tanah, sementara Badris mengeksekusi pembangunannya.
"Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah dibangun, kami jual. Profit dibagi sekian persen," ujarnya. Dari proyek inilah pundi-pundi modalnya mulai terkumpul untuk berekspansi ke kawasan Barombong seluas dua hektare.
Kini, kuli bangunan itu telah menjelma menjadi 'raja kecil' properti yang membawahi ribuan unit rumah. Meski telah berada di puncak, Badris tak pernah lupa pada akar rumput. Ia memegang tiga filosofi saklek dalam hidupnya: kerja keras, perbanyak jaringan, dan keikhlasan.
Sebuah pembuktian sahih bahwa kesuksesan tak pernah menanyakan dari mana Anda berasal, melainkan seberapa keras Anda bersedia berjuang.








Komentar