|
Menu Close Menu

Kolaborasi Pemulihan Akses Lhok Sanding, Progres Jembatan Gantung 65 Persen

Selasa, 24 Februari 2026 | Februari 24, 2026 WIB

 

 

Jakarta - Sungai Meureudu yang membelah Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, merupakan sungai induk (main stem) bagi sejumlah anak sungai (tributary) sebelum bermuara di perairan Selat Malaka.


Karakteristik geografis tersebut menjadikan wilayah hilir sangat rentan terdampak ketika kawasan hulu diguyur hujan lebat dalam durasi panjang.


Puncaknya terjadi pada akhir November 2025, saat fenomena Siklon Senyar memicu curah hujan ekstrem. Debit air Sungai Meureudu meluap drastis melampaui kapasitas tampungnya dan menyebabkan banjir kiriman yang membawa material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar.


Dampak paling signifikan terjadi di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua. Jembatan penyeberangan yang menjadi akses vital warga terputus akibat terjangan arus deras dan material bawaan banjir, sehingga konektivitas masyarakat lumpuh total.


Pembangunan Jembatan Gantung Dikebut

Pasca-penanganan darurat, pemerintah memasuki fase pemulihan infrastruktur dengan fokus utama mengembalikan akses transportasi warga.


Hingga Minggu (22/2/2026), pembangunan kembali akses tersebut diwujudkan melalui proyek strategis jembatan gantung hasil kolaborasi antara tim ahli dari Vertical Rescue Indonesia dan prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 836/Brahma Yodha (Yonif TP 836/BY).


Dukungan material bangunan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat percepatan pengerjaan di lapangan. Tim gabungan bekerja siang dan malam demi memastikan jembatan dapat segera difungsikan, mengingat perannya yang krusial dalam memulihkan aktivitas ekonomi warga serta memangkas jarak tempuh distribusi logistik dan kebutuhan pokok.


Progres Capai 65 Persen


Secara keseluruhan, progres fisik pembangunan jembatan gantung telah mencapai 65 persen. Sejumlah tahapan utama bahkan telah rampung 100 persen, meliputi pengeboran besi palang, pembentangan enam sling utama (atas dan bawah), mobilisasi material batu dan pasir ke titik A dan B, serta pengecatan dasar (meni) pada gapura di kedua sisi jembatan.


Percepatan kini difokuskan pada struktur pendukung agar jembatan dapat difungsikan secara aman dan sesuai standar teknis. Pekerjaan pondasi di titik A, pembentangan sling pagar horizontal, pemotongan sling rawayan, serta pembuatan plang gapura dan turunan tepi jauh telah memasuki tahap akhir dengan capaian rata-rata 90 hingga 95 persen.


Sementara itu, pemasangan palang tercatat mencapai 45 persen dan pengecatan akhir gapura sebesar 30 persen. Tim juga tengah memacu pembuatan dudukan sling horizontal serta struktur sayap jembatan guna memastikan kekuatan dan stabilitas konstruksi.


Sinergi antara keahlian teknis medan ekstrem dari Vertical Rescue Indonesia dan dedikasi prajurit Yonif TP 836/BY menjadi kunci percepatan pembangunan. Jembatan gantung ini ditargetkan segera rampung sehingga keterisolasian warga Gampong Lhok Sanding dapat diakhiri, sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur di wilayah rawan bencana tersebut.

Bagikan:

Komentar