|
Menu Close Menu

Jejak Jajanan Nusantara: Dari Rasa, Kolaborasi, hingga Harapan Baru bagi UMKM

Kamis, 05 Maret 2026 | Maret 05, 2026 WIB

 


 

Jakarta - Aroma jajanan khas Nusantara akan menyatu dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan dalam Festival Jejak Jajanan Nusantara yang digelar pada 6–8 Maret 2026 di Parkir Selatan Barat, kawasan Gelora Bung Karno, Senayan.


Lebih dari sekadar festival kuliner, ajang ini dirancang sebagai ruang tumbuh bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas dan memperluas pasar.


Melalui inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), festival ini menjadi wujud nyata bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak cukup hanya dengan wacana, tetapi harus dihadirkan dalam aksi konkret dan kolaboratif.


Deputi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, menekankan pentingnya membuka akses pasar seluas-luasnya bagi pelaku UMKM. Menurutnya, penguatan ekosistem usaha harus dimulai dari produk yang terkurasi dan memiliki daya saing.  “Fokus utama Kemenko PM adalah memperkuat ekosistem UMKM dengan membuka akses pasar yang lebih luas melalui kurasi produk berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/3/2026).


Lebih dari 40 tenant UMKM terkurasi akan menghadirkan aneka jajanan khas dari berbagai daerah. Setiap produk bukan hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga cerita tentang ketekunan, kreativitas, dan harapan pelaku usaha lokal.


Bagi sebagian UMKM, festival ini menjadi pengalaman pertama tampil di ruang publik berskala besar. Momentum tersebut membuka peluang promosi langsung kepada masyarakat sekaligus membangun kepercayaan diri pelaku usaha untuk terus berkembang.


Tak berhenti pada promosi, Kemenko PM juga menghadirkan Klinik UMKM dan Klinik Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Di ruang ini, pelaku usaha mendapatkan pendampingan, konsultasi, hingga fasilitasi gratis untuk memperkuat legalitas dan profesionalitas usaha mereka.


Perlindungan kekayaan intelektual seperti merek, paten, hak cipta, dan desain industri turut menjadi perhatian. Langkah ini penting untuk menjaga karya dan inovasi UMKM agar tidak mudah dibajak, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk di mata pasar.


Leontinus menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak bisa dilakukan secara parsial. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.  “Kami percaya bahwa dengan sinergi yang solid, Jejak Jajanan Nusantara dapat menjadi model pemberdayaan yang tidak hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkokoh identitas dan kebanggaan terhadap produk bangsa,” tegasnya.


Menariknya, semangat kebersamaan juga diwujudkan melalui NgabubuRun sejauh lima kilometer pada Minggu (8/3/2026) bersama Menko PM A. Muhaimin Iskandar. Kegiatan ini menggabungkan gaya hidup sehat dengan dukungan nyata terhadap UMKM lokal.


Di tengah hiruk-pikuk kota, Jejak Jajanan Nusantara menghadirkan pesan sederhana namun kuat: membangun ekonomi rakyat dimulai dari memberi ruang, akses, dan perlindungan bagi usaha kecil untuk tumbuh.


Dari rasa yang tersaji di setiap stan, tersimpan optimisme bahwa UMKM Indonesia mampu berdiri kokoh di negeri sendiri.

Bagikan:

Komentar